OK, let's break it to the point. Gue bikin post ini cuma karena gue pengen nulis. Sebetulnya nggak ada hal yang bener-bener bisa gue tulis atau ceritakan. Jadi, jangan heran kalau post ini bakal berisi deretan kata-kata tidak bermakna, atau malah sumpah serapah.
Ah kalau sumpah serapah enggak juga kali ya. Gue bukan tipe orang yang kasar kok. Gue kan lemah lembut dan baik hati, serta selalu menjunjung tinggi sopan santun.
Loneliness
Gue sebetulnya nggak ingin membicarakan topik menyedihkan semacam ini di post pertama gue, tapi gue rasa hal satu ini cukup relevan untuk dibicarakan, mengingat bahwa faktor kesepian adalah hal utama yang menggerakkan gue untuk kembali ngeblog, mengisi waktu gue dengan kegiatan yang lebih suplementatif (am I using the right word?) daripada bengong.
Hey I just said a funny thing. Kesepian adalah hal utama yang menggerakan gue? Lucu tapi nyata. Hal yang begitu menyiksa dan menguras energi - malah kadang seperti mengikis jiwa gue perlahan-lahan - bisa jadi suntikan kekuatan yang tidak ada negatif-negatifnya, malah positif. Tapi sepertinya emang hal ini berlaku bukan untuk faktor kesepian aja ya? Semua hal yang dianggap buruk bisa saja berujung ke hal yang baik, ataupun sebaliknya yang baik ke yang buruk. Semua tergantung 5 w dan 1 h alias what, who, where, when, why dan how. Yang paling sering terjadi, rasa kesepian bikin gue frustrasi, pengen teriak tapi malu sendiri. Malu karena gue tau itu bodoh, gue tau teriakan atau jeritan nggak akan banyak membantu perasaan gue. Dan malu kalau ada yang denger tentunya.
When I'm in a crowd...
Seringkali gue merasakan kesepian yang amat parah saat gue berada di tengah orang banyak. Bisa jadi orang-orang yang nggak gue kenal, atau justru orang-orang terdekat gue. Kondisi yang terakhir gue sebut lebih sering terjadi, tentunya, mengingat gue jarang banget menghabiskan waktu gue di luar rumah, dan sejak homeschooling social life gue nyusruk habis-habisan.
Gue benci banget saat-saat di mana gue melihat ada begitu banyak orang di samping gue, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak ada hal yang dibicarakan. Nggak ada kegiatan yang dilakukan. Hati gue rasanya dingin. Sama sekali nggak ada rasa kebersamaan.
Hilangnya kehangatan ini paling terasa saat gue berada di tengah keluarga gue, duduk-duduk bersama, melewatkan waktu di depan televisi, tanpa pembicaraan yang signifikan. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pikiran yang dipenuhi hal-hal memusingkan bagi masing-masing, mulai dari soal pacar, sekolah, teman, sampai soal duit. Dan gue jelas nggak bisa mempersalahkan keadaan yang membuat posisi semuanya jadi terjepit begini, tapi seriously? Apa gue betul-betul harus diam aja, melihat setiap masalah ini membuat perasaan semuanya jadi kecut dan suasana jadi dingin?
Gue mengharapkan kebersamaan. Entah seperti apa bentuknya. Entah bagaimana cara mendapatnya. Gue nggak mau terus melewatkan detik-detik gue sambil bertanya-tanya, apa iya nggak akan ada apa-apa yang terjadi? Yang gue minta wajar banget kok. Gue nggak mengharapkan ada hujan uang. Gue juga nggak bermimpi dilamar pangeran. Gue ingin orang-orang yang ada di sekitar gue nggak lagi sibuk dengan alamnya sendiri-sendiri. Nggak tenggelam dalam kesedihannya masing-masing. Seandainya memang harus tenggelam, lebih baik tenggelam bersama. Begitu masih lebih baik daripada sendiri dan kesepian.