Pages

Sunday, May 30, 2010

Cendol

Gile judul post gue nggak penting amat ya. Tapi nggak tau kenapa, I just feel like it. Perasaan gue lagi seperti cendol. Kentel, ijo-ijo, butek, kedengarannya jijik tapi tetep manis, enak, dan segar. Nggak jelas, tapi tetep asyik-asyik aja. Padahal gue sekarang nganggur abis lho - tengah malem, nggak bisa tidur gara-gara tadi sore udah tidur (out of exhaustion) dan pinternya lagi gue minum Nescafe Pas. Pintar tak saya?

Anyway, (kayaknya) inilah beberapa hal yang udah berhasil bikin hati gue lumayan cerah!



Lady Antebellum

Ini terakhir kalinya gue nyebut nama band pop country ini untuk malam ini (aaah, gue kebanjyakan pake kata ini). Sekarang playlist gue dipenuhi lagu-lagu dari album kedua mereka, Need You Now, dan so far nggak ada yang menarik selain lagu Need You Now yang udah gue post videonya. Saking nggak menariknya gue sempet nggak sadar gue lagi ngederin lagu. Sekarang gue baru sampe track ke-5 sih, nggak tau deh kalo nanti ada yang cukup asyik lagunya...

Oh ya, soal lagu-lagu mereka, gue jadi inget lagu-lagu worship dari Hillsong dan sejenisnya. Apa kabar ya Hillsong?




Poker Face

Tadi Lady Antebellum, sekarang giliran Lady Gaga! Gue suka beberapa lagunya, tapi selama ini dia lebih sering luput dari perhatian gue. Seperti biasa when someone gets too popular I tend to stop paying attention and let others do the work instead. Biar dunia lebih seimbang gitu, hehehe. Anyway, di antara hitsnya Poker Face emang salah satu yang paling terkenal, tapi justru gue nggak seberapa suka, sampai...gue nonton Glee episode 20!




Saat itulah gue sadar betapa kerennya melodi dari Poker Face, thanks to the amazing Lea Michele/Idina Menzel duet. Irama yang aslinya menghentak-hentak diubah jadi lebih slow dan...pokoknya keren deh! Just check it out...





Sebetulnya masih banyak hal yang mau gue tulis, termasuk soal House of Harlow 1960-nya Nicole Richie (she's looking more and more fab each day, btw). Tapi this damn flu is bugging me too much, I can't think clearly.

So, entar deh gue tambah cendolnya, kalo masih ada :p

Song of the Day

And the winner is....



Lady Antebellum's Need You Now

I discovered this cool song yesterday on Billboard's official web site. Agak basi ya? But it's never too late to start liking something, especially when it comes to MUSIC! I don't pay that much attention to the lyrics. They're pretty cool, I guess, but still can't beat the melodies.

Enjoy.

Saturday, May 29, 2010

What's With the World? #1

A couple concerns about the world's sad condition have been sitting around in my mind for a while now. And by world, I don't mean the Earth.



I do care, but not the same way you do

Before I start with my real ideas I want to make it clear: I love the idea of going green and having clean air, I do really care about that. But the global warming theory is just too much for me, and there's still no proof that it really can cause the world to end. I mean the Earth did go through a couple ice ages before. It's nothing new! And I believe no single human was involved in that.

But the ice age is coming anyway, great destructions will happen, and no one will be able to survive. Well that, I believe. Why is it a big deal? I believe that everything is fated, and everything has to come to an end. Sooner or later, the world will end. So rather than worrying about how to prevent the world from ending yet, won't it be better to find ways to live our lives to the fullest? Then we can talk going green and improving the Earth's air quality.

I think I'm done stating my view! So let's get to the core.




Change used to be a beautiful word

...until Obama used it for his campaign. I never studied politics formally, and I believe he understands bureaucracy better then me, and perhaps most people in this world. But apparently he thinks being good is enough to be a good president.

It's like saying a good daughter will naturally be a good mother. And he keeps saying he will make changes for the entire world. Create world peace, and blah blah blah. All I can see everytime I watch his speech is a man with a (possible) friendliness who sells his colorful words t of hope to calm down the public.

He uses the word change to fool the entire world. Well down, now I can't use the world without recalling your lame speeches, and how people fell so easily for your sweet words. Have you no guard, people?

to be continued

On Boredom


I'm bored to death!

The above line has been my favorite for years now. O yea, nothing baaad has really happened in the last couple of years of my life, so I shouldn't complain, I know that. But the truth is nothing really happened. And all I know is that this nothingness is killing me. I could totally use a little drama in my life.

Wait, a little drama? Do I really need more drama? Hmm. That's a tough question. I have to answer this question first: is there any drama in my life? or has there been any?

If quitting school out of naiveté, thinking it might change my life forever, only to find myself arguing with my dad through the last four years of my life, withdrawing myself from society and getting so close to run away from home forever - I spent the night walking around town in the rain with my whole body soaking wet - count as drama then perhaps I don't need any more drama. Perhaps what I need then is a fresh new start, to develop a more normal me.



It's only in theory

The funny thing (which might not be so funny) is I don't feel like my life has been full of drama. My head keeps telling me that everything that has happened was nothing big, and I should endure all the pains. They only hurt a little anyway.

But that's only the theory. If it's true, why don't I ever feel okay? Why would I ever feel so sick of my life, and myself? Why would I ever think that I'm worthless and it's best to end my life?

And still my head would say that everything's okay and everything's normal. I'm being spoiled. I'm always wrong. And I would hate myself even more because I can't be strong enough to overcome all my fears all by myself.

Then again reality strikes, telling me no matter how cruel I am to myself, no mater how far I punish myself, the world can still be much more cruel. So why don't I do myself a favor and be good?



Enough drama

So I've come to the conclusion that it's not about my life's lack of drama - it might not be the most dramatic life, but yea it's been dramatic enough - it's about me treating myself wrong. I've been imprisoned by my own fears and anxieties, I can no longer see things clearly, and find it hard to indulge myself with small things I have in life.

You see, when we can no longer enjoy small things, life would seem so unfriendly and hopeless, our self worthless, and our spirit to pursue our dreams will vanish before it blooms. And that's exactly what I've lost. What I need to do is get it back, learn to love myself again. Then I'll be too busy pursuing dreams that I don't have time to feel bored!

Tuesday, May 25, 2010

Santai

Gue baru sadar blog gue yang baru ini dari post pertama isinya curhatan nggak jelas terus, atau kalau nggak begitu pasti sok serius. Tapi gimana lagi, emang gue cuma menyatakan apa yang persis ada di kepala gue. Begitu keluar langsung gue tulis. Nggak pakai dipikir ulang. Dan nggak dibaca lagi, karena males tentunya. Tulisan-tulisan semacam itu memang mampu membuat tujuan gue untuk lebih nyantai tercapai, karena dengan mengeluarkan sampah-sampah yang numpuk di otak, gue jadi bisa lebih fokus sama hal-hal yang bukan sampah (if there's any). Tapi khusus hari ini gue ingin menulis sesuatu yang bukan cuma bikin santai yang nulis, tapi juga yang baca.

Jadi apa yang mau gue tulis? Errr...well, that's tough! Kayaknya emang gue bukan tipe orang yang tau caranya santai! Mungkin satu dari sedikit cara nyantai yang gue tau adalah nonton acara gosip dan bergosip tentunya, hehehe. Gue suka ngomentarin deretan selebriti nggak penting yang seliweran baik di acara gosip lokal maupun Hollywood. Buat gue kalau ditanya artis lokal sama Hollywood kampungan mana, jawabannya: sama aja, dalam artian lokal emang banyak yang kampungan dan nggak penting, tapi seleb Hollywood yang norak sih bisa norak banget.

Misalnya Kim Kardashian yang talentless dan tebel makeupnya o-la-la itu.


Terus ada lagi Justin Bieber yang tampangnya kayak bocah ingusan, kerdil, tapi sok kecakepan dan sok player.



Waktu di wawancara Ryan di KIIS dia dengan gaya ngomong sok asik bilang kalau dia abis make out sama seorang cewek. Terus di wawancara baru-baru ini, dia bilang dia mau pacaran sama siapapun yang cute asal di bawah 40 tahun. I mean, 40 tahun? Gue ragu yang usianya cuma 20an sekalipun mau jadian sama cowok yang masih cocok ngempeng begitu!

Ih, gue jadi panas deh, kalau ngomongin selebriti :p.


(As you see, this post is labeled nonsense, so don't blame me if you find this crappy!)

Sunday, May 23, 2010

Aku #1


Hot and cold

Betul-betul kombinasi dua kata yang sangat pas menggambarkan kepribadian gue. As much as I hate to admit it, gue selalu berada di sebuah ekstrem. Selalu berpindah-pindah dari kutub ke kutub. Nggak pernah di tengah-tengah. Utara atau Selatan. Cinta atau benci.

I've been aware about this for quite a long time now. Dan gue selalu berusaha menempatkan diri di posisi yang lebih netral. Tapi sekeras apapun gue mencoba kayaknya selamanya gue akan tetap hot and cold. Hanya mungkin lebih soft aja.

Pagi tadi meski kepala pening, gue berhasil membangun perasaan dan mood yang baik. Apalagi setelah ngeliat langit yang lumayan cerah. It felt good! Tapi waktu bergulir terlalu lambat. Mood positif gue disambut kurang ramah oleh dunia sekitar. Begitu gue ke luar kamar, rasanya beda. Di detik gue menginjakkan kaki gue ke luar, gue kembali teringat, betapa hidup gue masih belum tertata dan masa depan gue tidak terarah. Sentilan kecil dari pikiran sendiri yang mengingatkan diri gue akan dinginnya dunia seperti memadamkan api kecil yang susah payah disulut oleh hati kecil gue yang dipenuhi semangat naif.

Betapa rapuhnya diri gue ini. Atau, labil mungkin lebih tepat. Satu detik gue terbakar api semangat, dan rasanya gue bisa menaklukan bumi dengan satu jentikkan jari. Tapi kemudian pikiran gue yang kejam menarik gue kembali untuk menghadapi kenyatan bahwa gue nggak memiliki modal untuk meraih keinginan gue, dan dalam sekejap mata mimpi gue lenyap.

Dan kelabilan ini pun bersarang dalam tiap aspek diri gue, dan kehidupan gue. Dalam hubungan gue dengan orang lain, atau dalam berkegiatan yang kecil-kecil sekalipun. Satu hari gue nggak bisa berhenti memikirkan seseorang, tapi besoknya gue jadi benci habis-habisan hanya karena teringat dengan kejelekan orang itu, yang mungkin nggak seberap besar. Di pagi hari gue bisa memutuskan akan belajar dengan giat, tapi siangnya gue sudah merasa down hanya karena satu-dua orang mengatakan hal-hal kecil yang berlawanan dengan semangat naif gue. Bahkan kadang saat di kamar mandi gue mikir untuk beresin semua barang di kamar gue yang nggak terpakai, tapi begitu keluar gue memutuskan untuk membiarkan semua seperti adanya.

Dari menyangkut hal yang kecil sampai yang besar, gue tidak pernah bisa tinggal tenang. Betul-betul bikin frustrasi. Gue tau, semua remaja labil. Tapi sering gue bertanya, apa ia semua remaja selabil ini?




The answer lies all around me!

I sort of answered that question myself. Gue terlalu lama tinggal di persembunyian, mengalah dengan keadaan karena terlalu takut mencoba. Sekalinya mencoba gue terlalu berharap banyak. Atau kadang simply kebanyakan maunya! Akibatnya sekalinya gagal, sakitnya luar biasa. Gara-gara itu gue jadi deg-degan setiap dihadapkan dengan pilihan - menyangkut hal apapun. Gue jadi takut. Panikan. Hot and cold.

And I was alone through all those times, because I simply didn't want to let anyone see through myself. Gue yang bodoh dalam mengambil keputusan, gue yang rugi. Keadaan sama sekali nggak bisa disalahkan. Lagipula menyalahkan apapun atau siapapun nggak akan memberi keuntungan apa-apa. Dari pada buang tenaga nyalah-nyalahin, lebih baik gue fokus dengan hidup gue ke depannya kan? So I made stupid choices and suffer because of it. So I'm not that much smarter now and very likely to make more stupid choices and suffer again. Terus kenapa? After all, I've lost too much, I have nothing to lose anymore!

Bonjour


...to the sky

Betatapun sumpek dan semerawutnya suatu kota, saat melihat ke atas semuanya kembali indah. Kedengaran maksa dan dibuat-buatkah? Sebenernya nggak sama sekali. Itu adalah pendapat gue yang sejujur-jujurnya. Di Jakarta yang isinya cuma debu dan asap sekalipun - termasuk di kompleks tempat tinggal gue yang pemandangannya cuma bangunan dan jalanan berkerikil - saat gue melihat ke luar jendela di pagi hari, satu-satunya yang bisa bikin gue senyum adalah langit. Dan meski kota-kota Jakarta nggak akan pernah kebagian langit seindah bali - begitu luas, seemingly boundless dan indah banget warnanya bercampur dengan cahaya matahari yang dipantulkan laut biru - warna biru-putih di pagi hari udah cukup menyegarkan, dan warna merah-orang bikin hati gue warm. Mungkin keindahannya ini makin jelas justru karena lingkungan di sekitarnya jelek ya? Jadinya kontras. Nggak tau lah, yang pasti gue bersyukur banget, di kota yang sekacau ini masih ada mahakarya yang begitu indah dan powerful, menyatukan masyarakat se-ibukota, bahkan seisi dunia yang hidup di bawahnya.

Jadi, selamat pagi, langit :)

First Post

OK, let's break it to the point. Gue bikin post ini cuma karena gue pengen nulis. Sebetulnya nggak ada hal yang bener-bener bisa gue tulis atau ceritakan. Jadi, jangan heran kalau post ini bakal berisi deretan kata-kata tidak bermakna, atau malah sumpah serapah.

Ah kalau sumpah serapah enggak juga kali ya. Gue bukan tipe orang yang kasar kok. Gue kan lemah lembut dan baik hati, serta selalu menjunjung tinggi sopan santun.



Loneliness

Gue sebetulnya nggak ingin membicarakan topik menyedihkan semacam ini di post pertama gue, tapi gue rasa hal satu ini cukup relevan untuk dibicarakan, mengingat bahwa faktor kesepian adalah hal utama yang menggerakkan gue untuk kembali ngeblog, mengisi waktu gue dengan kegiatan yang lebih suplementatif (am I using the right word?) daripada bengong.

Hey I just said a funny thing. Kesepian adalah hal utama yang menggerakan gue? Lucu tapi nyata. Hal yang begitu menyiksa dan menguras energi - malah kadang seperti mengikis jiwa gue perlahan-lahan - bisa jadi suntikan kekuatan yang tidak ada negatif-negatifnya, malah positif. Tapi sepertinya emang hal ini berlaku bukan untuk faktor kesepian aja ya? Semua hal yang dianggap buruk bisa saja berujung ke hal yang baik, ataupun sebaliknya yang baik ke yang buruk. Semua tergantung 5 w dan 1 h alias what, who, where, when, why dan how. Yang paling sering terjadi, rasa kesepian bikin gue frustrasi, pengen teriak tapi malu sendiri. Malu karena gue tau itu bodoh, gue tau teriakan atau jeritan nggak akan banyak membantu perasaan gue. Dan malu kalau ada yang denger tentunya.



When I'm in a crowd...

Seringkali gue merasakan kesepian yang amat parah saat gue berada di tengah orang banyak. Bisa jadi orang-orang yang nggak gue kenal, atau justru orang-orang terdekat gue. Kondisi yang terakhir gue sebut lebih sering terjadi, tentunya, mengingat gue jarang banget menghabiskan waktu gue di luar rumah, dan sejak homeschooling social life gue nyusruk habis-habisan.

Gue benci banget saat-saat di mana gue melihat ada begitu banyak orang di samping gue, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak ada hal yang dibicarakan. Nggak ada kegiatan yang dilakukan. Hati gue rasanya dingin. Sama sekali nggak ada rasa kebersamaan.

Hilangnya kehangatan ini paling terasa saat gue berada di tengah keluarga gue, duduk-duduk bersama, melewatkan waktu di depan televisi, tanpa pembicaraan yang signifikan. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pikiran yang dipenuhi hal-hal memusingkan bagi masing-masing, mulai dari soal pacar, sekolah, teman, sampai soal duit. Dan gue jelas nggak bisa mempersalahkan keadaan yang membuat posisi semuanya jadi terjepit begini, tapi seriously? Apa gue betul-betul harus diam aja, melihat setiap masalah ini membuat perasaan semuanya jadi kecut dan suasana jadi dingin?

Gue mengharapkan kebersamaan. Entah seperti apa bentuknya. Entah bagaimana cara mendapatnya. Gue nggak mau terus melewatkan detik-detik gue sambil bertanya-tanya, apa iya nggak akan ada apa-apa yang terjadi? Yang gue minta wajar banget kok. Gue nggak mengharapkan ada hujan uang. Gue juga nggak bermimpi dilamar pangeran. Gue ingin orang-orang yang ada di sekitar gue nggak lagi sibuk dengan alamnya sendiri-sendiri. Nggak tenggelam dalam kesedihannya masing-masing. Seandainya memang harus tenggelam, lebih baik tenggelam bersama. Begitu masih lebih baik daripada sendiri dan kesepian.