Pages

Sunday, May 23, 2010

Aku #1


Hot and cold

Betul-betul kombinasi dua kata yang sangat pas menggambarkan kepribadian gue. As much as I hate to admit it, gue selalu berada di sebuah ekstrem. Selalu berpindah-pindah dari kutub ke kutub. Nggak pernah di tengah-tengah. Utara atau Selatan. Cinta atau benci.

I've been aware about this for quite a long time now. Dan gue selalu berusaha menempatkan diri di posisi yang lebih netral. Tapi sekeras apapun gue mencoba kayaknya selamanya gue akan tetap hot and cold. Hanya mungkin lebih soft aja.

Pagi tadi meski kepala pening, gue berhasil membangun perasaan dan mood yang baik. Apalagi setelah ngeliat langit yang lumayan cerah. It felt good! Tapi waktu bergulir terlalu lambat. Mood positif gue disambut kurang ramah oleh dunia sekitar. Begitu gue ke luar kamar, rasanya beda. Di detik gue menginjakkan kaki gue ke luar, gue kembali teringat, betapa hidup gue masih belum tertata dan masa depan gue tidak terarah. Sentilan kecil dari pikiran sendiri yang mengingatkan diri gue akan dinginnya dunia seperti memadamkan api kecil yang susah payah disulut oleh hati kecil gue yang dipenuhi semangat naif.

Betapa rapuhnya diri gue ini. Atau, labil mungkin lebih tepat. Satu detik gue terbakar api semangat, dan rasanya gue bisa menaklukan bumi dengan satu jentikkan jari. Tapi kemudian pikiran gue yang kejam menarik gue kembali untuk menghadapi kenyatan bahwa gue nggak memiliki modal untuk meraih keinginan gue, dan dalam sekejap mata mimpi gue lenyap.

Dan kelabilan ini pun bersarang dalam tiap aspek diri gue, dan kehidupan gue. Dalam hubungan gue dengan orang lain, atau dalam berkegiatan yang kecil-kecil sekalipun. Satu hari gue nggak bisa berhenti memikirkan seseorang, tapi besoknya gue jadi benci habis-habisan hanya karena teringat dengan kejelekan orang itu, yang mungkin nggak seberap besar. Di pagi hari gue bisa memutuskan akan belajar dengan giat, tapi siangnya gue sudah merasa down hanya karena satu-dua orang mengatakan hal-hal kecil yang berlawanan dengan semangat naif gue. Bahkan kadang saat di kamar mandi gue mikir untuk beresin semua barang di kamar gue yang nggak terpakai, tapi begitu keluar gue memutuskan untuk membiarkan semua seperti adanya.

Dari menyangkut hal yang kecil sampai yang besar, gue tidak pernah bisa tinggal tenang. Betul-betul bikin frustrasi. Gue tau, semua remaja labil. Tapi sering gue bertanya, apa ia semua remaja selabil ini?




The answer lies all around me!

I sort of answered that question myself. Gue terlalu lama tinggal di persembunyian, mengalah dengan keadaan karena terlalu takut mencoba. Sekalinya mencoba gue terlalu berharap banyak. Atau kadang simply kebanyakan maunya! Akibatnya sekalinya gagal, sakitnya luar biasa. Gara-gara itu gue jadi deg-degan setiap dihadapkan dengan pilihan - menyangkut hal apapun. Gue jadi takut. Panikan. Hot and cold.

And I was alone through all those times, because I simply didn't want to let anyone see through myself. Gue yang bodoh dalam mengambil keputusan, gue yang rugi. Keadaan sama sekali nggak bisa disalahkan. Lagipula menyalahkan apapun atau siapapun nggak akan memberi keuntungan apa-apa. Dari pada buang tenaga nyalah-nyalahin, lebih baik gue fokus dengan hidup gue ke depannya kan? So I made stupid choices and suffer because of it. So I'm not that much smarter now and very likely to make more stupid choices and suffer again. Terus kenapa? After all, I've lost too much, I have nothing to lose anymore!

No comments:

Post a Comment